top of page

Sejarah GKJ (3)


GKJ Jakarta mulai tahun 1969 menempati gedung gereja permanen di wilayah Rawamangun. Saat itu wilayah Rawamangun susah dijangkau oleh transportasi umum. Kondisi ini memaksa jemaat-jemaat yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta untuk memikirkan bagaimana caranya mengatasi jarak agar mereka tetap terikat dalam sebuah persekutuan GKJ Jakarta. Salah satu solusinya adalah dengan mengadakan ibadah-ibadah di wilayah yang berada pada titik-titik tertentu persebaran Jemaat. Dokumen rapat Jemaat GKJ Jakarta menunjukkan bahwa pada tahun 1973 ada beberapa wilayah yang telah mengadakan ibadahnya sendiri. Wilayah Pejompongan adalah salah satu wilayah yang mengadakan ibadah sendiri pada saat itu. Dari sebuah kumpulan tulisan yang dibuat dalam rangka 10 tahun pendewasaan GKJ Joglo, Bapak Maryono menyebutkan bahwa meski catatan tertulis mengenai kapan persisnya wilayah Pejompongan mengadakan ibadah sendiri sudah susah dilacak, melalui catatan ibadah pada akhirnya diketahui bahwa pada tanggal 7 Januari 1973 untuk pertama kalinya diselenggarakan kebaktian GKJ Jakarta wilayah Pejompongan dengan menumpang di Gereja GPIB Anugerah di Jalan Penjernihan.


Wilayah Pejompongan pada saat itu dilayani oleh lima orang Penatua. Kelima Penatua tersebut membagi diri mereka untuk melayani kelompok Karet, Setiabudi, Kuningan, Pejompongan, Slipi, Kebon Jeruk, Tanjung Duren, kedoya, bahkan hingga ke Kebayoran Lama-Rempoa, bahkan seorang penatua ditugasi pula melayani warga yang berdomisili di Kebayoran baru. Selain ibadah rutin setiap minggunya, semenjak tahun 1974 para penatua ini juga bertanggung jawab untuk menyelenggarakan Pemahaman Alkitab (PA) terutama untuk warga yang berdomisili di kelompok Slipi-Kebon Jeruk-Joglo-Meruya. Bahkan kegiatan-kegiatan perayaan gerejawi seperti natal, Paskah, Paduan Suara, Sekolah Minggu, dan lain-lain tidak luput dilaksanakan meski kala itu tempat pelaksanaannya bisa saja berbeda-beda setiap tahunnya. Lambat laun dengan semakin pesatnya pertumbuhan warga maka kini berdiri pula wilayah Kebon Jeruk dengan kepengurusan mandiri dan dilayani oleh penatua sendiri.


Dalam wawancara penulis dengan beberapa narasumber yang menjadi penyaksi langsung fase ini, mereka merasakan bahwa meski saat itu kondisinya penuh dengan keterbatasan namun anehnya hal tersebut sama sekali tidak menjadi halangan untuk bersekutu. Apa yang diingat oleh berbagai narasumber ini justru kedekatan-kedekatan personal yang justru terbangun dari jatuh bangunnya mereka menyiapkan kegiatan seperti natal serta paskah dengan sarana dan dana yang terbatas, atau ketika mereka harus berjibaku dengan situasi ibukota yang saat itu sulit transportasi hanya untuk menghadiri PA. Semangat itu tidak hanya hadir pada jemaat dewasa tapi justru tampak pula pada anak-anak serta generasi muda saat itu. Rupanya daya juang tersebut yang mereka rindukan agar hadir pula pada masa kini. Daya juang berarti sebuah kehendak kuat dari dalam diri untuk bersekutu dan menginterpretasi kehendakNya dalam konteks kehidupan persekutuan gerejawi, sebagaimana peziarahan bangsa Israel yang mengalahkan gurun dengan berbekal iman kepada Allah.


Semangat untuk bersekutu ini melahirkan sebuah babak baru dalam sejarah GKJ Joglo. Fase tersebut ialah sebuah perjuangan memantapkan visi untuk membangun sebuah gereja yang mandiri. Awal dari fase itu dimulai dengan sebuah kehendak untuk mendirikan gedung ibadah.

Kategori
Recent Posts
Archive
bottom of page