Dewasa Rohani


Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

(Ibrani 5:13)


Kedewasaan rohani orang Kristen tidak dapat dinilai dan diukur dari segi fisik, umur, seberapa lama mengikuti Kristus, atau seberapa aktif terlibat dalam pelayanan. Orang yang belum mampu untuk menerima makanan keras seperti masalah/problem adalah orang yang masih kanak-kanak. Seorang kanak-kanak rohani hanya mau mendengarkan firman Tuhan yang empuk, lembut, manis, enak didengar, dan meninabobokkan. 


Begitu mendengar firman Tuhan yang keras, yang berisikan teguran, nasihat, seruan pertobatan, bagaimana harus membayar harga, mereka langsung memberontak, marah, tersinggung, ngambek, undur diri, tawar hati, kecewa, dan lain sebagainya. Mereka hanya mau dilayani, tak mau melayani, dan merasa cukup puas hanya menjadi penonton, bukan pemain. Fokus mereka adalah diri sendiri. Seorang kanak-kanak rohani akan mudah sekali disesatkan dan diombang-ambingkan oleh ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil, sebab pengetahuannya tentang kebenaran masih sangat dangkal dan belum berakar kuat. 


Orang yang dewasa rohani pasti akan meninggalkan sifat kanak-kanaknya seperti cepat tersinggung, cepat ngambek, bersungut-sungut, tidak ada tanggung jawab, selalu mau menang sendiri, selalu berasumsi negatif, banyak komplain. Walaupun sudah melayani belum berarti sudah dewasa rohani. Hanya mereka yang hidup dipimpin Roh Allah dan yang menyangkal dirinyalah yang dapat menjadi dewasa rohani dan mengalami proses demi proses penyaliban dirinya sehingga keluar seperti emas murni atau batu permata yang telah diproses. Selamat berdewasa rohani.


#TimVitjiGKJJoglo

Kategori
Recent Posts
Archive