GEREJA BAGAI BAHTERA


Tahukah Anda tentang kapal pesiar? Kapal pesiar adalah kapal yang didesain sebagai kapal dengan fasilitas nomor satu. Tiap kamar berfasilitas hotel bintang lima, memiliki ruang dansa dan minum-minum, kolam renang, tempat untuk berjemur dan restoran. Setiap penumpang akan dilayani sebaik mungkin. Intinya setiap penumpang akan dibuat nikmat dan santai, dilayani, dihibur, bisa meminta ini dan itu. Penumpang adalah raja yang menuntut pelayanan yang baik oleh para anak buah kapal karena merasa sudah membayar mahal. Sebagai akibatnya anak buah kapal harus bekerja keras untuk memuaskan hati mereka. Sebetulnya saya kurang nyaman dengan syair lag Gereja Bagai Bahtera (PKJ 150) karena kelihatannya warga gereja disebut ‘penumpang”.

Kapal perang? Kapal ini pada dasarnya tidak memiliki penumpang karena semua “penumpang” adalah awak kapal yang adalah prajurit. Semua prajurit? Ya, mungkin ada kokinya, tapi koki di kapal perang adalah juga awak kapal perang, jadi adalah juga prajurit. Mereka semua adalah orang-orang yang sudah dilatih untuk tugas-tugas tertentu. Di atas kapal, mereka mengutamakan disiplin, kerja sama, selalu siap sedia dan menganggap satu sama lain sebagai rekan sekerja. Semua harus bekerja sesuai dengan tugas mereka masing-masing agar tujuan dan tugas kapal itu tercapai.



Banyak gereja mungkin memiliki warga yang bermental seperti penum-pang kapal pesiar. Mereka datang ke gereja bukan untuk melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk Tuhan, tetapi untuk dilayani dan menikmati. Mereka datang bukan untuk belajar sesuatu yang baru dan hidup mereka diubahkan, tetapi ingin dilayani dengan fasilitas bangku yang empuk, ruangan yang sejuk, musik yang oke, disenangkan oleh khotbah yang enak didengar, dst. Akibatnya, saat AC di rasa kurang dingin, petugas dianggap melakukan beberapa kesalahan, pujian salah nada, atau khotbahnya kurang cocok, mereka complain dan mungkin ingin pindah gereja.


Dalam “gereja kapal pesiar” bicara soal kesadaran, tanggung jawab, peran dan partisipasi menjadi sulit, karena itu semua dianggap sebagai tugas awak kapal. Tokoh-tokoh Natal seperti Yusuf-Maria-Elisabeth memberikan teladan dalam menyediakan diri untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah, meski untuk itu mereka harus mengorbankan dirinya.


Meski pelayanan gereja memang harus baik, tapi dalam hal disiplin, kesadaran dan partisipasi warga, gereja haruslah seperti kapal perang, sebab semua pengikut Kristus yang juga adalah warga gereja itu harus terlibat aktif melayani sesuai dengan karunia mereka masing-masing. Mereka tidak boleh berperan seperti para penumpang kapal pesiar yang minta dilayani dan hanya memperhatikan kepentingan mereka sendiri.

Kategori
Recent Posts
Archive