KAYA dalam KEMISKINAN LIMPAH dalam KEKURANGAN


Orang biasanya punya pandangan bahwa seseorang dapat berprestasi luar biasa atau mampu memberi karena punya modal besar, kaya atau kelebihan. Kalau orang cuma punya “modal” sedikit, tidak akan mampu berbuat banyak. Benarkah demikian? Kalau hanya bersikap “biasa” mungkin memang demikianlah adanya. Tetapi kalau kita punya sikap dan semangat yang luar biasa, keterbatasan itu dengan pertolongan Tuhan ternyata dapat ditembus.


Mungkin Anda heran dan tidak habis pikir, kalau menurut beberapa catatan ternyata ada orang-orang yang berprestasi besar, bukan hanya “tidak banyak memiliki modal” tetapi bahkan seorang yang memiliki cacat yang orang bisa memustahilkan kemampuannya sebelum sungguh melihat buktinya.


Demosthenes adalah seorang ahli pidato yang sangat terkenal dari Yunani. Orang tidak tahu bahwa Demosthenes kecil adalah seorang anak yang menderita gagap. Bicara normal saja tidak mampu. Tetapi ia digembleng dengan semangat yang tinggi oleh seorang guru yang amat tekun, yang mengisi mulut Demosthenes dengan batu dan dilatih vokal di pantai dengan cara berteriak-teriak kepada ombak-ombak. Meski cacat, ia kemudian menjadi ahli pidato yang amat terkenal pada jaman Yunani kuno.


Inggris punya seorang pahlawan laut yang sangat terkenal, yaitu laksamana Nelson. Sebelum menjadi perajurit pada Angkatan Laut Inggris, ternyata ia memiliki “cacat” yang amat sulit dihilangkan, yaitu ia tidak bisa naik kapal karena pasti mabuk laut. Dan itu berlangsung cukup lama. Hanya dengan tekad yang sangat besar, ia kemudian mampu menjadi pelaut, bahkan menjadi seorang laksamana dan pahlawan laut terbesar di Inggris.


Pernah mendengar nama Beethoven? Kita tidak akan ragu untuk memberi pengakuan bahwa di adalah seorang yang amat terkenal di bidang musik. Betapa kita amat mengagumi simphoni yang diciptakan olehnya. Dengan tidak percaya orang pasti akan menganggap mustahil catatan ini : ternyata dia adalah seorang yang menderita tuli, sehingga ia tidak pernah mendengarkan dengan baik musik ciptaannya sendiri. Orang lain yang membantunya. Bagaimana mungkin orang tuli menciptakan simphoni?


Yohannes Chrysostomus (Tokoh Gereja, Antiokhia abad ke 4) mengajarkan : “Kaya itu tidak berarti memiliki banyak, tapi memberi banyak” Kita sering harus menyadari dan mengakui bahwa kita sebenarnya diberi banyak berkat oleh Tuhan. Yang belum atau kurang kita lakukan adalah : berbuat banyak untuk mengucap syukur atasnya

Kategori
Recent Posts
Archive
E-mail
ALAMAT

Kompleks Taman Alfa Indah A/9

Joglo Jakarta Barat

Jakarta 11640

Tel.

(021) 584-2043

Fax.
SUBSCRIBE
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey YouTube Icon

© 2017 GKJ Joglo. Managed by Komisi Komunikasi GKJ Joglo