Appreciative Inquiry (AI), Sebagai Perspektif Pembangunan Jemaat (3)


Dalam perpektif perkembangan organisasi dan juga yang sering dimanfaatkan oleh gereja, sudah lazim kita menemukan sistem analisis SWOT (Strength/Kekuatan, Weakness/Kelemahan,Opportunities/Kesempatan, dan Threats/Ancaman). Sistem analisis tersebut sangat berguna dan telah membantu berbagai jenis organisasi untuk bertumbuh dan mengoptimalkan keberadaan dan pelayanan mereka. Lewat Appreciative Inquiry, sistem analisis tersebut diperlengkapa berdasarkan kerangka teori yang dibangun dalam AI. Adapun sistem analisis yang ditawarkan oleh AI ialah SOAR (Strenght/Kekuatan, Opportunities/Kesempatan, Aspirations/Gagasan, Results/hasil).


Bila SWOT dikelompokkon berdasarkan tantangan internal (strength, weakness) dan tantangan eksternal (Opportunity, Threats) maka SOAR dikelompokkan berdasarkan tahap 4D yang minggu lalu kita bahas yakni analisis strategik (Strength, Opportunity) dan tujuan aspiratif (Aspirations,results). Dalam SOAR kelompok analisis strategik, Strength berfokus pada pertanyaan Apakah yang menjadi aset terbesar kita dan Opportunity pada pertanyaan manakah peluang terbaik. Di sisi lain kelompok tujuan aspiratif yakni Aspirations dan Results berfokus pada pertanyaan mengenai masa depan ideal seperti apa yang diinginkan serta hasil-hasil apa yang dapat diperhitungkan.


Dari penjelasan diatas kita bisa melihat bahwa unsur negatif hilang dan berubah menjadi unsur aspiratif/positif. Setelah kekuatan (strength) dan peluang (opportunities) ditemukan maka para partisipan diundang untuk berbagi aspirasi (aspiration) dan ikut membangun masa depan yang paling mereka inginkan. Perencanan dan program dibuat menuju hasil-hasil (results) yang dapat diperhitungkan. Jadi ketika kita berfokus pada Strength dan Opportunities kita mencoba untuk menemukan (discovery) apa yang memberi kehidupan, kemudian memimpikan (dream) kita akan berbuat apa, setelah itu kita merancang (design) berdasarkan mimpi kita itu, dan akhirnya akan mendapatkan Destiny (sesuatu yang dapat dikerjakan secara bersama-sama atau secara kolektif).

Di sisi yang lain sebenarnya baik SWOT ataupun SOAR memiliki persamaan yakni keduanya sama-sama memperhatikan Strength dan Opportunity yang ada dalam tiap organisasi. Sementara itu perbedaannya pada SOAR terletak pada mentransformasi fokus terhadap kelemehan (Weakness) dan ancaman (Threats) kepada cita-cita/aspirasi (aspirations) dan hasil (results). Apakah dengan demikian melalui AI dan SOAR kelemahan otomatis ditiadakan? Tentu saja tidak melainkan tidak menjadi fokus utama karena yang jadi fokus utama adalah impian dan potensi organisasi.

Kategori
Recent Posts
Archive