Mengenal Persembahan Persepuluhan (3)

Kitab Ulangan memuat informasi yang cukup terperinci mengenai persembahan persepuluhan Di edisi sebelumnya kita melihat melalui kitab Ulangan bahwa ternyata persembahan persepuluhan diberlakukan semata-mata karena itu adalah perintah Allah, namun juga demi memelihara kehidupan sosial yang lebih adil. Inilah yang membuat pola pengaturan persembahan persepuluhan di kita Ulangan menjadi sangat spesial karena mempertimbangkan aspek sosial dari pelaksanaan persembahan tersebut. Unsur sosial tersebut semakin menonjol apabila kita meletakkannya dalam konteks Tahun Yobel (tahun pembebasan) yang dirayakan setiap tahun ketujuh (Ul. 15-1-18).


Dari beberapa kitab terkhusus kitab taurat yang telah kita kaji ternyata terlihat berbagai petunjuk yang beragam mengenai pelaksanaan persembahan persepuluhan dan motivasinya. Lalu bagaimana dengan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya? Kita 2 Tawarikh 31 dan Nehemia 10,12 & 13 memuat sedikit pengaturan soal persembahan persepuluhan.Sementara itu di kitab nabi-nabi kita tidak menjumpai catatan yang memadai mengenai persepuluhan kecuali di dalam kitab Maleakhi. Menarik untuk melihat kitab Amos terkhusus di pasal 4 yang secara khusus berkomentar tentang persembahan persepuluhan, namun dengan nada kritis dan ‘negatif’. Amos 4:4-5 misalnya "Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?" demikianlah firman Tuhan ALLAH.”


Kenapa Nabi Amos bereaksi demikian keras terhadap persembahan persepuluhan beserta ritual-ritual lainnya? Dalam zaman Nabi Amos rupanya bangsa Israel terjebak dalam kekhusyukan semu terhadap tindakan-tindakan ritual namun melupakan moralitas, keadilan sosial, dan tindakan baik terhadap orang lain. Di ayat 4 disebutkan soal ‘melakukan perbuatan jahat’ sementara di ayat 1 terdapat rujukan terhadap ‘memeras orang lemah…menginjak orang miskin”. Persembahan yang sejatinya adalah perbuatan untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah menjadi hilang maknanya karena berubah motivasinya sekadar tindakan untuk menonjolkan diri dan mendapat pujian. Kalau kita mengingat di kitab Taurat bahwa persepuluhan juga diperintahkan untuk memelihara kehidupan sosial yang lebih adil, maka pada masa Amos persembahan persepuluhan berubah hanya menjadi ritual yang beku untuk menutupi penindasan sosial.

Kategori
Recent Posts
Archive
E-mail
ALAMAT

Kompleks Taman Alfa Indah A/9

Joglo Jakarta Barat

Jakarta 11640

Tel.

(021) 584-2043

Fax.
SUBSCRIBE
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey YouTube Icon

© 2017 GKJ Joglo. Managed by Komisi Komunikasi GKJ Joglo