Sejarah GKJ (4)


GKJ adalah sebuah gereja yang memiliki ciri khas tersendiri. Sistem presbiterian yang dianutnya memungkinkan setiap gereja lokal untuk bertumbuh dan berkembang seturut dengan kekhasan konteks yang dihidupi oleh masing-masing gereja. Kemandirian tersebut berjalan beriringan dengan kesadaran tinggi untuk mengikatkan diri dalam ikatan kebersamaan yang lebih luas seperti klasis dan sinode. Kalau pembaca mengingat binawarga minggu lalu, maka kita akan mendapati bahwa pada hari ini 16 Februari 2020, tepat 89 tahun yang lalu beberapa gereja yang tergabung dalam lima klasis secara sadar memututskan untuk mengikatkan diri menjadi sebuah Sinode. Maka dari itu bila kita berbicara tentang berdirinya Sinode GKJ maka sesungguhnya di saat yang sama kita tengah mempercakapkan gereja-gereja yang terhimpun sebagai anggota sinode GKJ dengan kompleksitasnya masing-masing. Tulisan ini akan mencoba sedikit menjelaskan secara ringkas sejarah GKJ Joglo, sebagai salah satu upaya untuk merayakan ulang tahun Sinode GKJ.


Sedari dahulu masih bernama Batavia, Jakarta memang telah menjadi magnet tersendiri bagi para pengadu nasib yang mendambakan kehidupan yang berbeda sekaligus menarik. Kota pelabuhan ini menjanjikan perjumpaan-perjumpaan dengan berbagai kultur serta kemajuan yang mungkin belum dirasakan sebelumnya. Daya tarik ini juga dirasakan oleh orang-orang Jawa yang ingin mencoba peruntungannya. Diantara orang-orang Jawa yang berdatangan ini hadir pula orang-orang Kristen Jawa yang jumlahnya pada saat itu tidak terlalu banyak. Pada saat itu sekitar tahun 1930an hingga awal tahun 40 masih sulit untuk mencari gereja berbahasa melayu yang setidaknya sedikit dimengerti oleh orang-orang Jawa itu, disana-sini yang banyak ditemukan adalah gereja-gereja berbahasa Belanda ataupun Tionghoa. Dari antara gereja yang berbahasa melayu tersebut, hadirlah Gereformeerde Kerk Kwitang (sekarang GKI Kwitang) dan gereja Rehoboth yang ada di Meester Cornelis (sekarang GKP Jatinegara). Kedua gereja inilah yang menjadi tonggak persekutuan orang-orang Jawa di Batavia dan yang merupakan cikal bakal GKJ di Jakarta.


Diantara orang-orang Jawa yang beribadah di kedua gereja tersebut rupanya terdapat sebuah kerinduan untuk bersekutu menggunakan bahasa Jawa. Kemudian muncullah ide untuk mengadakan persekutuan bahasa Jawa yang bertempat secara bergantian di rumah mereka masing-masing. Persekutuan tersebut semakin berkembang pesat dan antusiasme untuk menghadiri persekutuan itu juga dirasa semakin kuat sehingga lama kelamaan tidak ada lagi rumah yang cukup besar untuk menampung mereka. Pada akhirnya dicetuskan lah ide untuk mencari tempat yang lebih luas dan layak. Tempat-tempat tersebut diantaranya Christelijke frobel School (Taman Kanak- Kanak Kristen) di Vliegveldlaan (Jalan Garuda), pindah ke Hogere Theologische School (H.T.S., Sekolah Tinggi Teologi) di jalan proklamasi. Ibadah yang pada mulanya diadakan dua kali setiap bulan kini diadakan setiap minggu bahkan ‘terpaksa’ harus mengundang Ds. (Pendeta) K. Tjokrosiswondo dari Bandung untuk melayani ibadah sebulan sekali.




Tim Penyusun, Peringatan 30 tahun Gereja Kristen Jawa Jakarta, (Jakarta: GKJ Jakarta, 1973), 17-19

Kategori
Recent Posts
Archive