top of page

Menjadi Marta atau Maria?


Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, (‭‭Lukas‬ ‭10:38-39‬‬)


Sepanjang kita hidup kisah Maria dan Marta mungkin telah berulangkali dibaca atau diperdengarkan dalam khotbah. Medium untuk menyampaikan kisah ini berbeda-beda, namun kesimpulannya bisa jadi sama yakni jangan menjadi seperti Marta! Sontak teringatlah kita pada teguran Kristus pada Marta karena mempermasalahkan sikap yang dipilih Maria. Namun pernahkah kita berefleksi barangkali ada alternatif lain untuk memahami tindakan Marta?


Alkisah Yesus berkunjung ke tempat Marta dan Maria sahabat baikNya. Ia datang dan disambut oleh Marta. Sebagai tuan rumah yang baik, Marta memilih untuk melayani Kristus selayaknya tuan rumah yang baik, sementara Maria memilih untuk mendengarkan perkataan Sang Guru. Keduanya adalah pilihan sikap yang wajar dalam menyambut seorang tamu. Sampai disini tidak ada masalah, teguran Yesus baru muncul ketika Marta mempermasalahkan sikap Maria. Dalam bahasa aslinya teguran tersebut sejatinya lebih menampakkan selorohan seorang sahabat pada sahabat lainnya, bukan hardikan keras tanpa ampun.


Banyak penafsir Kristen memahami tindakan Marta dan Maria sebagai simbol iman dan tindakan atau kontemplasi dan aksi dalam menyambut Kristus. Sebagaimana persepsi kita pada Marta, seringkali tindakan/aksi dinomorduakan sebagai jalan berelasi dengan Kristus. Padahal iman dan tindakan harusnya berjalan beriringan. Nyatanya memang ada orang-orang yang berusaha berjumpa dengan Kristus lewat tindakan-tindakan sederhana sesehari yang dilakukan secara rutin seraya membayangkan kebaikan Tuhan. Merekalah para pemerhati yang mungkin dibutuhkan gereja di zaman modern ini.


#TimVitji GKJJoglo#

Kategori
Recent Posts
Archive
bottom of page