Cintaku pada Rumah-Mu


Yohanes 2:13-22


Perikop yang menarasikan kisah tentang Yesus marah di Bait Allah ini, bukanlah kisah yang asing bagi kita. Cerita ini sering menjadi rujukan bagi pembenaran kemarahan seseorang. Namun, sering orang abai pada apa yang melatarbelakangi kemarahan Yesus.

Kemarahan Yesus memiliki dasar yang sangat kuat. Dasar itu sangat bertalian dengan bagaimana seharusnya umat menghaturkan sembah baktinya kepada Allah. Bait Allah adalah Rumah (bait) Allah. Dalam penghayatan iman Yahudi, Bait Allah adalah lambang kehadiran Allah di tengah umat. Di sanalah Allah berdiam dan di sana pula, umat menyatakan baktinya kepada Allah. Itu artinya, seharusnya siapapun yang hadir ke Bait Allah, maka orientasi utamanya adalah bakti pada Allah. Demikian pula, segala aktivitas yang terjadi di Bait Allah pun diperuntukkan bagi sembah kepada Allah.

Apa yang terjadi pada waktu itu, sama sekali tidak menunjukkan bakti dan hormat umat kepada Allah. Yesus melihat Bait Allah penuh sesak karena para pemimpin agama Yahudi mengizinkan pedagang hewan dan penukar uang berjualan di halaman Bait Allah. Maksudnya untuk memudahkan orang-orang dari luar kota dalam mempersiapkan korban persembahan, agar mereka mudah mendapatkan hewan kurban dan dapat menukarkan uang syikal yang sudah lama tidak beredar sebagai uang persembahan. Tujuan yang awalnya tampak baik, dibelokkan untuk mencari keuntungan besar dan justru memeras umat yang datang hendak memberikan persembahan. Itulah yang menjadikan Yesus marah besar.

Kemarahan Yesus pada para penjual dan pemimpin agama Yahudi yang telah mengubah fokus ibadah dan Bait Allah untuk memuaskan hasrat pribadi menjadi cermin bagi kita saat ini. Sudah 1 tahun kita beribadah secara daring. Patut kita renungkan bersama, apakah ibadah dan berbagai persiapan yang kita lakukan masih berorientasi untuk menyatakan sembah bakti kepada Tuhan atau jangan-jangan kita lebih banyak berusaha untuk memuaskan keinginan kita? Lalu, esensi ibadah menjadi luntur karenanya?

Kategori
Recent Posts
Archive