Gereja di Era Digital atau Gereja Digital? (1)


PGI pada tahun 2016 membuat sebuah Konsultasi Nasional (konas) bertajuk “Teknologi Digital untuk Keadilan dan Perdamaian.” Acara tersebut adalah wadah brainstorming gereja-gereja terkait tema-tema tertentu yang harus menjadi fokus gereja-gereja di Indonesia. Secara khusus konsultasi nasional 2016 tersebut ingin melihat dampak teknologi serta dunia digital bagi berbagai aspek kehidupan termasuk gereja serta kehidupan iman umat. Era digital ditandai munculnya pembedaan kependudukan berdasarkan digital immigrant (imigran digital) dan digital native(pribumi digital). Digital native adalah mereka yang sejak lahir sudah berada dalam era digital. Jumlah pengguna internet di Indonesia pun terus meningkat mulai dari remaja hingga orang tua. Jumlah pengguna internet di Indonesia bahkan semakin muda. Persentase digital nativedan pengguna internet usia muda lebih besar daripada digital immigrantberusia dewasa. Rentang usia digital nativemulai dari 12 tahun hingga 34 tahun mencapai 58 persen dari pengguna internet (88.000.000). Sedangkan pengguna internet usia dewasa (35-59 tahun) atau masuk kategori digital immigranthanya 42 persen. Secara global Indonesia juga tercatat di posisi keempat sebagai pengguna mediasosial (70.000.000). Tujuh puluh persen pengguna Facebook di Indonesia berusia di bawah 27 tahun dan 70 persen mengakses melalui ponsel.


Data-data tersebut kemudian dinterpretasi dalam konas PGI bahwa kemudian muncul kecenderungan bahwa teknologi kemudian ditafsirkan dalam pandangan klasik bahwa ponsel serta dunia digital menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi dan dunia digital juga membawa dampak baik bagi kehidupan iman umat masa kini yakni dengan membuat sarana-sarana pemeliharaan iman lewat dunia digital sampai melaksanakan kesaksian melalui sarana teknologi. Pandangan ini adalah perumusan teori dan pengamatan dunia dengan kondisinya lima tahun lalu. Bagaimana dengan sekarang?


Pandemi telah merubah dunia. Di saat perjumpaan fisik dibatasi maka orang-orang bermigrasi ke dunia digital untuk memenuhi kebutuhan sosialnya berkomunikasi serta berelasi dengan orang lain. Kerja, belajar, dan bersosialisasi difasilitasi oleh perkembangan dunia digital termasuk cara orang beribadah. Dengan demikian bagaimanakah gereja bersikap dalam perkembangan terkini. Apakah kita tengah berevolusi dari gereja di era digital menuju gereja digital? Upaya-upaya apakah yang harus dilakukan dalam menghasilkan sebuah sintesa antara firman Tuhan serta tradisi gereja dengan pemahaman eklesiologis terkini yang amat erat bersinggungan dengan dunia digital. Binawarga beberapa edisi ke depan akan membahas tema ini dengan memanfaatkan literatur yang ada serta perumusan yang telah dilakukan baik oleh PGI ataupun GKJ sendiri.

Kategori
Recent Posts