Gereja di Era Digital atau Gereja Digital? (2)


Di sepanjang sejarah dunia, pandemi telah hadir dan selalu membawa perubahan besar bagi warga dunia dalam menjalani kehidupan. Pandemi Covid-19 tidak terkecuali. Kehadirannya telah memantik gelombang perubahan yang terus kita alami hingga saat ini. Salah satunya adalah terjadinya migrasi pelayanan gereja- gereja dari yang bersifat langsung atau luar jaringan (luring, offline) menuju penggunaan media-media dalam jaringan (daring, online). Dengan segala keterbatasan gereja-gereja diajak untuk beradaptasi dan mengikuti perubahan. Lambat laun orang-orang mulai terbiasa, walaupun tak dapat dipungkiri masih banyak pula yang terkendala keterbatasan akses dan perasaan asing yang menyelimuti atas terlaksananya metode pemeliharaan iman serta persekutuan secara daring.

Dalam pengamatan Christopher Helland, fenomena gereja-gereja tersebut dapat dilihat melalui tipologi "religion online" dan "online religion". Religion online merupakan aktivitas agama di ruang maya dalam bentuk menampilkan dan mengartikulasikan sumber dan ritual keagamaan yang ada di dunia nyata (offline) ke dalam dunia maya (online). Sedangkan online religion adalah aktivitas agama yang dengan memahami ruang maya sebagai sebuah bentangan sosial yang baru, kemudian berusaha mengimajinasikan bagaimana nantinya bentuk masyarakat kontemporer yang spiritual dan akhirnya merumuskan bentuk baru kehidupan keagamaan yang relevan baik di dunia nyata maupun maya.

Sejauh gereja melakukan migrasi pelayanannya menuju media daring maka dapat dikatakan ada dalam tipologi religion online. Namun jika gereja sampai pada tahapan memikirkan dengan serius bagaimana corak pelayanan dan spiritualitas yang baru di tengah arus kemajuan teknologi maka dapat dikatakan gereja melakukan online religion. Ada dua pendapat yang menganilisis situasi ini. Pertama, religion online adalah satu bentuk transisi yang tidak selamanya dilakukan oleh gereja-gereja. Itu semua hanyalah respon darurat atas situasi pandemi yang terjadi. Pendapat kedua mengatakan, bahwa bentuk religion online akan menjadi sebuah bentuk persekutuan yang berjalan berdampingan dengan bentuk persekutuan konvensional yang biasa gereja lakukan. Pandemi tidak akan pernah hilang dan kebiasaan yang menurut kita baru saat ini akan menjadi sebuah kelaziman di masa mendatang.

Manakah dari kedua pendapat diatas yang pada akhirnya kita pilih? Pada akhirnya semuanya amat cair melihat dan menunggu situasi zaman yang amat cepat berubah ini.

Allen, Holly Catterton & Christine Lawton Ross. 2012. Intergeneratinal Christian Formation: Bringing the Whole Church Together in Ministry. Community and Worship, Illinois: InterVarsity Press.

Kategori
Recent Posts
Archive
E-mail
ALAMAT

Kompleks Taman Alfa Indah A/9

Joglo Jakarta Barat

Jakarta 11640

Tel.

(021) 584-2043

Fax.
SUBSCRIBE
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey YouTube Icon

© 2017 GKJ Joglo. Managed by Komisi Komunikasi GKJ Joglo