Rabu Abu


Masa Raya Paska dibuka dengan diselenggarakannya Ibadah Rabu Abu; yaitu 40 hari sebelum Paska tanpa menghitung hari Minggu. Hari Paska selalu terjadi pada hari Minggu, dan jika kita hitung mundur 40 hari tanpa menghitung hari minggu, selalu akan jatuh pada hari Rabu. Itulah sebabnya ibadah sebagai penanda dimulainya masa pra paska disebut dengan Ibadah Rabu Abu.Masa Prapaska yang dimulai pada hari Rabu telah dimulai pada abad VI (waktu itu belum bernama “Rabu Abu”). Pada abad X, penggunaan abu mulai dilakukan gereja, sehingga muncul istilah Rabu Abu.Tepatnya ibadah Rabu Abu telah dilaksanakan oleh gereja sejak tahun 960 dan secara resmi ditetapkan pada tahun 1091 dalam sidang di Benevento Italia. Itu berarti, jauh hari sebelum peristiwa reformasi pada abad 15, umat Kristen telah melakukan ibadah Rabu Abu.


Mengapa angka 40? Beberapa peristiwa penting dalam sejarah keselamatan Allah terjadi pada hitungan angka 40, baik itu 40 hari maupun 40 tahun. Yesus pun, sebelum memulai karya penyelamatan-Nya di dunia, berpuasa terlebih dahulu di padang gurun selama 40 hari. Mencontoh apa yang dilakukan oleh Yesus maka ibadah Rabu Abu bertujuan mengajak dan mendorong jemaat untuk semakin dekat dengan Tuhan dalam perenungan diri, refleksi dan latihan hidup rohani yang mewujud dalam cara hidup, sikap, tindakan seperti bertobat dan berdoa, berpantang, lebih tekun mendengar dan merenungkan Firman Tuhan, dan meningkatkan karya-karya cinta kasih seperti kepedulian/ empati.

Mengapa dalam ibadah Rabu Abu menggunakan abu dan mengoleskannya di dahi?

Di dalam Alkitab, abu adalah benda yang kaya akan makna simbolik. Abu dalam Alkitab dipakai untuk menunjukkan penyesalan, pertobatan, kesungguhan untuk dekat dengan Tuhan, mengingatkan manusia akan kefanaannya. Beberapa tokoh Alkitab yang menggunakan unsur abu untuk mengekspresikan perasaan dan iman mereka, antara lain adalah; Yosua yang menyesal karena Israel berpaling dari Allah (Yos 7:6), Mordekhai yang sedih dan memohon pertolongan karena rencana pembunuhan masal oleh Ahasyweros terhadap kaum Yahudi (Ester 4:1), penduduk kota Niniwe yang menyesal karena Tuhan hendak mengukum mereka (Yun. 3:5), Ayub yang berada dalam perenungan terdalam dirinya ketika menghadapi berbagai macam penderitaan bertubi-tubi (Ayub 2:8, 42:6).

Simbol abu di dalam Alkitab ini kemudian diambil dan dipakai oleh gereja-gereja pada masa lampau. Sedangkan tanda salib di dahi dipakai sebagai sebuah tindakan simbolik dramatik yang tujuannya untuk membantu jemaat semakin menghayati dan menegaskan tekad mereka untuk memasuki masa perenungan yang lebih dalam bersama Tuhan. Tekad itu tertanam kuat dalam pikiran dan hati yang dilukiskan dengan membuat tanda salib di dahi. Sehingga, bagi kita, dengan mengikuti Ibadah Rabu Abu, kita akan sangat tertolong untuk lebih dapat menyiapkan hati dan pikiran selama masa Pra Paska ini.

Kategori
Recent Posts
Archive
E-mail
ALAMAT

Kompleks Taman Alfa Indah A/9

Joglo Jakarta Barat

Jakarta 11640

Tel.

(021) 584-2043

Fax.
SUBSCRIBE
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey YouTube Icon

© 2017 GKJ Joglo. Managed by Komisi Komunikasi GKJ Joglo