top of page

PRASASTI EMAS dan RUMPUT


Biasanya, adalah sebuah suka cita kalau pembangunan sebuah rumah ibadah dilakukan bersama-sama seluruh umat. Tapi adakalanya seseorang yang amat berkuasa ingin melakukannya sendiri dan tidak ingin orang lain mengambil bagian. Ada seorang raja ingin membangun sebuah kathedral. Karena ingin memperoleh nama yang agung agar dipuja seluruh rakyat, ia melarang orang lain menyumbangkan apapun bagi proyek pembangunan itu. Ia juga sudah memerintahkan untuk membuat sebuah ukiran prasasti berlapis emas yang amat indah yang menuliskan dengan amat mencolok, bahwa kathedral itu DIBANGUN SENDIRI OLEH RAJA.



Pada suatu malam ia bermimpi, ada seorang malaikat datang dan mencoret namanya dari prasasti yang dibuatnya, dan menggantikan dengan nama seorang janda miskin. Berturut-turut selama tiga malam ia bermimpi dengan mimpi yang sama. Esoknya ia bangun dengan amat marah, gelisah dan tersinggung. Ia menyuruh memanggil janda miskin itu, --yang ia sudah kenal--, yang namanya ditulis oleh malaikat dalam mimpinya untuk menggantikan namanya dalam prasasti. Pengawal kerajaan menjemput janda miskin itu di rumahnya, dan menyeretnya ke istana.


Di hadapan raja yang marah, janda miskin itu amat gemetar ketakutan. “Apa yang telah kau perbuat hai janda miskin, sehingga malaikat mencoret namaku dan menggantikannya dengan namamu di atas prasasti?”. Janda miskin itu dengan gemetar berkata: “Tuanku, aku amat mengasihi Tuhan. Aku juga rindu untuk ikut mempersembahkan sesuatu untuk pembangunan rumah Tuhan itu. Sejak aku dilarang mendekat dan menyentuh bangunan atau memberi apapun yang dapat kuberikan, aku memang selalu membawa sekarung rumput setiap hari untuk kuda-kuda yang menarik batu bangunan. Hanya itu yang kulakukan, tapi itu kulakukan dengan segala ketulusan”.


Raja terkesima dengan kesungguhan, ketulusan serta kesederhanaan janda miskin itu. Ia teringat akan pengajaran Yesus tentang persembahan janda miskin dalam Injil, dan dengan perasaan haru ia memerintahkan agar nama janda miskin itu juga ditulis di atas prasasti. Namanya ditulis, bahkan disertai keterangan lengkap : “Seorang janda miskin dengan amat sederhana tapi penuh kesungguhan, telah memberi makan kuda-kuda penarik batu setiap hari untuk membangun kathedral ini. Tanpa bantuannya, kuda-kuda itu tak punya cukup kekuatan. Raja menghargai persembahannya”


Prasasti dengan kesaksian raja itu telah mendidik umat dengan lembut dan amat mendalam, betapa persembahan yang sederhana namun tulus, telah menjiwai kehidupan yang penuh kasih dan syukur yang begitu mendalam. Allah mencintai ketulusan dan kesederhanaannya.

Kategori
Recent Posts
Archive
bottom of page